Top Menu

Hilangnya Hati karena Pandemi



Saya sendiri bingung mau menulis apa mengenai pandemi  covid-19 ini. Tapi, ada satu catatan sendiri yang ingin saya ungkapkan di sini. catatan pilu mungkin kamu juga merasakannya. 

Catatan itu ialah hilangnya rasa dalam hati karena pandemi. Kenapa? Awal mulanya, pada tanggal 2 maret, Presiden Jokowi mengumumkan bahwa ada dua warga indonesia positif Corana, Sejak saat itu seisi negara dibuat geger, terkhusus daerah Jabodetabek, usut punya usut darimana kedua orang itu mendapatkan penyakit ini? 

Menurut kabar yang beredar, seorang pasien positif merupakan seorang guru dansa yang kebetulan mendapatkan kunjungan temannya dari negeri Sakura. Singkat cerita mereka berdansa, tak lama dari itu mereka dinyatakan positif, sejak saat itu pula berguguran semua opini keangkuhan yang mengkatakan Indonesia aman dari corona, corona tak akan masuk ke Indonesia dan lain-lain. Dan dari satu daerah kini telah meluas penyebarannya ke daerah-daerah yang lain.

Saya tidak akan mengulas itu lebih jauh, sebab semua orang tak berharap penyakit ini hadir dalam kehidupan kita.  Karena corona banyak dampak yang ditimbulkan, baik kesehatan, ekonomi dan sosial. 

Ada hal yang lebih mengerikan selain kematian karena corona sebab kematian sudah ditetapkan, matinya nurani, toleransi, dan hati. 

Belakangan ini sering sekali kita mendengar kabar tentan penolakan jenazah oleh sekelompok orang yang berada di sekitar lokasi pemakaman. Ini sungguh miris sekali, alasannya karena takut tertular, tentu hal tersebut adalah alasan orang bodoh, tak mau mencari pengetahuan lebih banyak.

Mana  bisa jenazah yang terbujur kaku bisa menularkan virus tersebut, tanpa adanya media, seperti alir liur atau kontak langsung. Dalam sebuah video yang tersebar di sosial media, bahkan para pekerja medis yang bertugas menguburkan jenazah korban covid-19 dilempar pakai batu, di hadang, disoraki, miris sekali, inikah potret karakteristik masyarakat kita yang terkenal akan tutur timurnya. 

Justru yang paling membahayakan adalah orang kota pulang ke kampung halaman ditengah wabah seperti ini, mereka bisa dengan santainya bercengkerama dengan orang-orang kampung, nongkrong di warung kopi, merasa diri masih sehat, tapi tak sadar membawa virus ke kampung. 

Belum lagi mereka yang dinyatakan positif, Pasien dalam Pengawasan (PDP), Orang dalam pengawasan (ODP) atau, wilayah yang dinyatakan sebagai zona merah, masyarakatnya tak luput menjadi ajang intimidasi oleh masyarakat yang daerahnya dinyatakan masih aman (zona hijau), mereka dibully, dikucilikan, dicurigai, bahkan diusir.

Padahal korban covid-19 itu bukan aib untuk dikucilkan dan dijauhi, bukankah kita harus mendukung mereka, baik dengan materi maupun non-materi. Sekian dulu tetap santuy saja.

#flpsumsel
#WAGSumselMenulis

2 komentar :

  1. Bukan hanya manusia yang bergelimpangan disebabkan kematian mirisnya nilai kemanusiaan ikut mati.

    BalasHapus
  2. Miris memang Ka, wabah menyebar, kemanusiaan juga pudar. Semoga lebih banyak hati-hati yang sadar akan tanggung jawab kemanusiaan. Yang paling penting, semoga wabah ini segera diangkat, aamiin.

    BalasHapus

Terima kasih sudah baca postingan allamsyah.com, silakan tinggalkan komentar

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates