Top Menu

[JURNAL] Sepenggal Cerita Trip Lampung #2





DENGAN tergopoh-gopoh saya berjalan di air laut yang kedalamannya semula semata kaki, terus kian dalam hingga sepaha, dan itu cukup menguras tenaga. 

Selain mandi dan menikmati embusan angin pantai tak banyak yang bisa dilakukan, ada beberapa spot foto yang bisa kita coba sih diantaranya, ayunan di pantai, serta ada fasilitas perosotan untuk anak-anak namun sepertinya perosotan itu sudah kurang terawat, belum lagi kondisi air laut yang sedang dangkal membuat fasilitias itu kurang yakin aman untuk dipakai mengingat di dasar laut terdapat batu-batu yang tajam, mungkin saja bisa menyebabkan kaki kita terluka.

Setelah cukup lama bermain di laut, kami kemutuskan untuk menyudahi perjalanan hari ini, mengingat hari mulai sore apalah saya dan beberapa kawan dari perjalanan harus segera ke stasiun tanjung karang untuk pulang ke Prabumulih menggunakan kereta api limex yang berangkat jam sembilan malam, sementara kawan-kawan lain memutuskan pulang besok menggunakan kereta pagi. 

Di Pantai Sari Ringgung tersedia tempat bilas dan kamar mandi gratis,jika membandingkan dengan Klara untuk ke kamar mandi dan toilet di kenakan biaya. Tapi yang namanua fasilitas gratis agak kurang yakin dengan kenyamanan dan kebersihannya. Jujur saja saya lebih suka menggunakan toilet umum yang berbayar, karena kebersihan dan kenyamanan toilet terjamin, contohnya di Pantai Klara, meskipun berbayar tapi  toilet dan kamar mandinya bersih, air berlimpah ruah. 

Tapi keadaan toilet dan kamar mandi di Sari Ringgung sedikit lebih baik dari pada keadaan toilet dan kamar mandi pantai Embe di Lampung Selatan. walaupun begitu pantai embe memiliki ombak  yang jauh lebih kuat, jadi jika kalian ingin merasakan bagaimana serunya diterjang serta diseret ombak datanglah ke pantai Embe, tapi tetap utamakan keselematan yah. Suasana ombak di Pantai embe sama seperti ombak di Pantai Panjang Bengkulu. Anginnya kencang dan ombaknya besar. 


Setelah semuanya bersiap pulang, terntata perjalanan belum selesai. Masih ada satu destinasi dadakan yang harus kami kunjungi. Yah, nama tempatnya Puncak Indah Pantai Sari Ringgung. Lokasinya di atas sebuah bukit, awalnya saya kurang yakin bisa mengendari mobil naik ke puncak indah tersebut, maklum hal ini karena saya belum pernah membawa mobil dengan medan jalan yang memantang seperti ini. Tanjakannya hampir 45 derajat. 

Menyebabkan detak jantung berpacu lebih kencang dari biasanya, ditambah salah satu penumpang saya yang memiliki rasa khawatir berlebihan membuat mulutnya tak bisa diam. Tapi, saya berusaha tenan, karena itu adalah kunci keselamatan yang dimiliki oleh seorang pengemudi sehingga bisa mengendalikan kendaraan yang sedang ia kemudikan secara baik. 

Di puncak Indah, semua kecemasan, ketegangan dan ketakutan itu seketika sirna. Tempat yang sangat indah, di sini kita bisa melihat pantai sari ringgung secara keseluruhan. Belum lagi dari sini kita bisa melihat anak gunung krakatau yah,  sebuah gunung merapi yang masih aktif hingga saat ini. 

Di sini kami manfaatkan untuk foto bersama dengan latar belakang laut dan pulau-pulau kecil di sekitar pantai sari ringgung. Waktu memang terasa begitu singkat, rasanya belum puas kami berada di Puncak Indah, tapi keadaan membuat kami harus sesegera mungkin meninggalkan tempat yang indah ini, turun dan pulang menuju Bandar Lampung.

Mengingat masih ada satu agenda lagi yang harus kami lakukakan dan termasuk sangat penting, mencari ole-ole khas lampung. Saya sendiri sebenarnya sudah membeli ole-ole pada minggu malam bersama rombongan FLP Ogan Ilir sebab mereka sudah harus duluan pulang menggunakan kereta pagi pada hari senin. 

Tapi kawan-kawan penumpang saya belum membeli ole-ole jadi sebelum ke penginapan kami memutuskan untuk mencari ole-ole. Sempat terjadi perdebatan untuk membeli ole-ole, ada yang ingin membeli ole-ole ke daerah PU (tempat semalam saya membeli ole-ole bersama rombongan FLP Ogan Ilir) ada yang ingin ke pusat ole-ole di daerah teluk betung. 

Akhirnya kami kemisahkan diri ke pusat ole-ole di teluk betung sementara satu mobil lagi ke daerah PU. Ada beberapa alasan kenapa kami memilih ke teluk betung, karena harganya lebih murah dan lebih dekat. Sementara alasan kawan yang lain ke PU adalah keripik pisangnya lebih fresh. 

Lampung memang terkenal dengan ole-ole khasnya berupa keripik pisang aneka rasa. Menurut saya pribadi ketika mendatangi kedua tempat ole-ole tersebut pusat ole-ole di daerah PU memang kelihatan lebih fresh dengan aneka rasa keripik lebih lengkap dari pada  di teluk betung walaupun harganya sedikit lebih mahal 25.00/ 250 gram keripik pisang aneka rasa, tapi di teluk betung pilihan keripiknya lebih sedikit bahkan habis. 

Pukul 18.00  kami sampai di penginapan, saya dan kawan dari Prabumulih memutuskan untuk sholat magrib di jamak isya di penginapan sebelum berangkat ke stasiun tanjung karang.

3 komentar :

  1. Pasti seru Ka, suasana dan pemandangannya tidak kalah dengan tempat wisata di daerah lain. Cocok untuk self healing.

    Oiya Ka, sepertinya ada beberapa kesalahan penulisan (typo), pemakaian huruf kapital di nama pantainya juga kurang konsisten, Ka. 🙏

    BalasHapus
  2. Wah menarik tampaknya. Jadi ingin ke sana juga. Pemandangannya luar biasa memanjakan mata.

    BalasHapus
  3. Jadi pengen kesana, fakta yang dibuat membuat saya tertarik dari artikel ini.

    BalasHapus

Terima kasih sudah baca postingan allamsyah.com, silakan tinggalkan komentar

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates