Top Menu

Kisah Romantis Dibalik Eksotiknya Pulau Kemaro






Bagi orang Palembang mungkin sudah tak asing lagi dengan Pulau Kemaro, nah untuk kamu para pendatang atau berniat datang ke Palembang tak ada salahnya untuk berkunjung ke Pulau Kemaro.
 
Apa sih itu Pulau Kemaro itu? Apakah memang sebuah pulau?

Yah, Pulau Kemaro adalah sebuah delta kecil di tengah Sungai Musi, di sini terdapat sebuah pagoda berlantai sembilan dan sebuah kelenteng yang sudah cukup tua bernama Kelenteng Hok Cing Bio yang sudah berumur ratusan tahun,  Pulau Kemaro merupakan destinasi wisata religi, terutama setiap perayaan Cap Go Meh.

Biasanya orang-orang etnis Tiong Hoa yang ada di Palembang melakukan ziarah di makam yang ada di Pulau Kemaro pada saat perayaan Cap Go Meh dan Imlek. Lampion dan dekorasi berwarna merah khas etnis Tiong Hoa akan tersaji disetiap sudut Pulau Kemaro. Pulau ini sendiri dikelola oleh Yayasan Toa Pekkong  meskipun begitu Pulau Kemaro tidak hanya diperuntukan untuk etnis Tiong Hoa saja tapi terbuka juga untuk umum. 



Konon katanya, kenapa pulau ini dinamakan Pulau Kemaro (kemarau) menurut kepercayaan warga setempat, pulau ini tidak pernah digenangi air dari sungai musi, meskipun air sungai musi sedang pasang.

Saya sendiri sudah  pernah menikmati keindahan dan kenyaman Pulau Kemaro beberapa tahun yang lalu saat menghadiri acara rakernas pengelolaan sampah dan limbah yang dilaksanakan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Dalam kegiatan itu terdapat  juga agenda  citi tour ke Pulau Kemaro.

Sebelum ke Pulau Kemaro sebaiknya ada hal yang harus kawan-kawan ketahui dulu yah, ternyata ada sebuah kisa romantis dibalik eksotiknya Pulau Kemaro. 

Pada jaman dulu, konon katanya ada seorang pangeran dari negeri China yang berkunjung ke Palembang. Pada saat berkunjung ia bertemu dengan seorang putri dari Kerajaan Palembang bernama Siti Fatimah, nah dari benih-benih cinta itu muncul.  

Pangeran bernama Tan bun An itu pun berniat hati untuk melamar Putri Siti Fatimah, sang putri memberikan syarat jika ingin menikah dengannya Tan Bun An harus menyiapkan tujuh guci berisi emas. Tan Bu An pun pulan ke negeri tirai bambu untuk memberi tahu orang tuanya bahwa ia akan melamar seorang putri dari Palembang. 



Tan Bun An menyuruh ibunya menyiapkan perhiasan emas untuk diberikan kepada Putri  Siti Fatimah. Karena pada waktu itu sering terjadi pembajakan di tengah laut maka orang tua
Tan Bun An pun menyimpan emas-emas dalam tujuh guci beserta sayur sawi untuk mengelabuhi jika dalam perjalanan nanti kapal mereka diserang bajak laut.

Sesampainya di perairan sungai musi, Tan Bun An pun menanyakan perihal emas yang dimintanya. orang tuanya pun memberi tahu kalau emas itu berada di dalam guci. Betapa terkejutnya Tan Bun An ketika melihat isi dalam guci tersebut hanya sayur sawi. 

Tan Bun An  marah dan membuang semua guci-guci tersebut ke sungai musi namun guci terakhir, guci itu jatuh dan pecah di  atas geladak kapal dan melihat isi dalam guci tersebut berisi emas, betapa menyesalnya Tan Bun An saat itu. Kemudian terjun ke sungai musi untuk mengambil emas yang tela ia buang tadi. 

Putri Siti Fatimah yang mengetahui peristiwa itu ikut menyusul terjun ke sungai musi, mereka berdua pun tak pernah muncul kembali. Tak lama muncul sebuah gundukan tanah ke permukaan Sungai Musi tepat di tempat Tan Bun An dan Siti Fatimah terjun. Gundukan tersebut lama kelamaan menjadi sebuah pulau yang dikenal sekarang Pulau Kemaro.

Masyarakat setempat pun mempercayai  bahwa hal itu adalah  kuburan Tan Bun An dan Siti Fatimah yang kisah cintanya melegenda sampai sekarang di Palembang. Begitulah kira-kira kisahnya.

Oh yah, bagaimana sih caranya biar bisa ke Pulau Kemaro. Nah gampang kok untuk bisa kesana teman-teman bisa menggunakan speedboat/perahu mesin yang sering mangkal di dermaga poin Benteng Kuto Besak. 

Untuk tarifnya sendiri berkisar Rp 10.000 – Rp 20.000 sekali jalan, waktu tempuh dari Benteng Kuto Besak ke Pulau kemaro itu sekitar  20 menit. Saat dalam perjalanan kawan-kawan bisa menikmati suasana perairan Sungai Musi yang berwarna coklat bergelombang, deretan rumah-rumah panggung dibibir Sungai Musi serta yang tak kalah penting ialah melihat megahnya Jembatan Ampera yang berwarna merah iconnya kota Palembang. 

Sebelum sampai ke dermaga di Pulau Kemaro kawan-kawan  juga bisa menikmati pemandanga Pulau Kemaro yang rimbun dan juga pagoda berwarna merah.

Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan di Pulau Kemaro, salah satunya berswafoto di pagoda, menyeruput air kelapa muda sembari menikmati embusan angin Sungai Musi, bercengkrama dengan teman perjalanan dan banyak lagi.

Selain pagoda dan kelenteng di Pulau Kemaro juga terdapat sebuah pohon bernama pohon cinta yang usianya juga sudah ratusan tahun.

Nah itulah sedikit ulasan tentang kisah romantis dibalik eksotiknya Pulau Kemaro, semoga bermanfaat, lebih kurangnya mohon maaf  yah. 


sumber foto:
Pesona.Travel
nativindonesia.com
dipalembang.com

7 komentar :

  1. Masya Allah, saya suka sekali. Walaupun saya tinggal di Banyuasin dekat Palembang saya belum pernah kesana. Hanya membaca blog KK seperti berada disana. Top de 😊

    BalasHapus
  2. Pulau kemaro memang menjadi salah satu destinasi wajib di palembang. Belum berasa ke Palembang kalo belum kesini. Lebih seru berkunjung kesini waktu liburan atau ketika sedang ada perayaan, lebih ramai dan akan banyak pertunjukan^^

    BalasHapus
  3. Wah, ternyata tidak seperti yang dibayangkan. Dikira keadaan di sana gersang. Semoga ada kesempatan untuk berkunjung ke Pulau Kemaro. Barangkali bisa nemu emas. :D

    BalasHapus
  4. Terima kasih telah menyuguhkan cerita "Pulau Kemarau" dengan apik. Sehingga bisa mendapat gambaran keadaan di sana. Jadi pingin berkunjung ke sana.

    BalasHapus
  5. Terimakasih kak, atas pengingatnya untuk saya harus segera berkunjung kesini. Malu jadi orang PalePalem tapi belum pernah kesini hehe

    BalasHapus
  6. aku ya sudah pernah ke sini, dan suka banget dengan pagodanya

    BalasHapus

Terima kasih sudah baca postingan allamsyah.com, silakan tinggalkan komentar

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates