Top Menu

Lontara Rindu






“Ada kejernihan yang mengharukan, bergantian dengan kelucuan yang menggelitik saat membaca Lontara Rindu. Penulisnya berhasil menjalin kisah yang menarik dengan warna lokal yang kuat, dan teknik cerita yang nyaris tanpa cela.” – Asma Nadia (Penulis 46 buku Best Seller)

Sering sekali kita dengar tulislah apa yang kita ketahui dan apa yang kita kuasai, dan hal itu dibuktikan lewat novel Lontara rindu ini. Daeng S. Geggge Mappanggewa begitu fasih dan  detail menuliskan kisah ini. Kisa yang berlatar belakang di desa Pakka Salo, Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan. 


Vito bocah lelaki yang  tumbuh dengan rasa rindu yang bersemayam dalam dirinya selama bertahun-tahun pada ayahnya dan saudara kembarnya Vino. Tapi, rasa rindu itu tak bisa ia lunasi sebab kakek dan mamanya, terus menyembunyikan hal itu dengan alasan akan memberi tahukan semuanya nanti jika sudah waktunya. 

Kisah yang begitu dahsyat ini dibungkus bersama kisah kearifan lokal yang patut kita banggakan bersama, kekayaan alam dan budaya, suku dan kepercayaan di Sulawesi Selatan. Tepatnya di desa Pakka Salo. Sebuah desa yang dikelilingi oleh bukit-bukit dan kebun jambu mete milik warga.

Vito lahir dan dibesarkan di desa itu bersama kakek dan mamanya yang berprofesi sebagai petani jambu mete serta bersama teman-temannya yang lain dan seorang guru yang begitu tulus mengajar serta membimbing mereka bernama Pak Amin.


Pak Amin  asli orang Corowali, dan saya menduga karakter dari Pak Amin ini diambil dari karakter penulisnya sendiri yang juga seorang pendidik.  Daeng Gegge begitu piawai meramu cerita dalam novel ini, banyak variasi warna, seperti yang di sampaikan oleh mbak Asma Nadia di atas, keharuan dan kelucuan silih berganti, itulah yang saya dapatkan ketika membaca novel setebal 342 halaman ini.



… takkan mati kejujuran itu,
Takkan runtuh yang daatar, takkan putus yang kendur,
Takkan patah yang lentur.
- Nenek Mallomo -
 


Belum lagi kisah cinta Halimah seorang gadis desa dan Ilham seorang mahasiswa asal Amparita, mereka bertemu di desa Pakka Salo saat itu Ilham sedang melakukan KKN. Namun, cinta mereka terhalang oleh restu dari ayah Halimah sebab selama KKN ayahnya tak pernah melihat batang hidung Ilham di masjid tak seperti mahasiswa lainnya, namun perlahan terungkap alasan kenapa Ilham tak pernah shalat berjamaah di masjid.

Ternyata Ilham dan keluarganya penganut agama Tolotang, saya sendiri baru mengetahui tentang agama itu. Meskipun agama ini menginduk ke agama Hindu sebagai legalistas semata dengan alasan ada kesamaan ajaran dengan Hindu, tapi Tolotang tetaplah Tolotang, mereka menyebutnya Hindu Tolotang. Mereka memiliki perayaan sendiri setiap tahunnya yakni pada bulan Januari. Secara penampilan antara Penganut Tolotang dan Muslim tak ada bedanya, bahkan meraka hidup berbaur di Amparita. 

Banyak pelajaran kehidupan dan hikmah yang bisa kita petik dari novel ini.  Selamat membaca untuk kawan-kawan yang belum membaca novel ini.


Penulis : S. Gegge Mappangewa
Editor: Priyanto Oemar dan Arif Supriyono
Cover: Tuarzan
Layout : Garislinkar
Penerbit: Republika
ISBN : 978-602-7595-01-9
TEBAL: 342 halaman; 13.5 cm x 20.5
Cetakan pertama, Maret, 2012

1 komentar :

Terima kasih sudah baca postingan allamsyah.com, silakan tinggalkan komentar

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates