Top Menu

Ramadhan, Pandemi, dan Perpisahan



Bukan hal mudah untuk meratapi sebuah perpisahan, menatapnya, merelakannya dengan segala hal-hal yang kita sukai maupun yang tak kita sukai. Memang ada kalanya perpisahan tak selalu dipandang buruk, bisa jadi itu adalah awal untuk mengapai sesuatu yang indah dan membahagiakan.

Ah, sulit memang jika kita harus dipertemukan dengan kondisi seperti ini. Ada banyak hal yang harus kita ikhlaskan, melepasnya sembari menyeka air mata yang tak terasa sudah menganak sungai di pipi.

Dalam sujud di penghujung malam itu, terdengar kalam-Nya yang begitu mengetarkan hati. Entahlah, sepertinya ada keraguan apakah akan ada pertemuan lagi dengannya (bulan ramadhan) dikemudian hari.

Ada dua getar yang tercipta pada situasi saat ini, getar kesedihan karena tak lama lagi perpisahan itu akan terjadi, beberapa jengkal dihadapan kita. Getar yang lain ialah getar kekhawatiran pada diri ini, pada orang-orang tersayang di sekitar kita, pandemi belum juga mau berdamai.

Semua berawal pada bulan maret hingga kini, tiga bulan sudah, pandemi itu merajalela negeri ini membuat semuanya menjadi lumpuh, terutama ekonomi yang sudah dirasakan oleh berbagai lapisan kalangan. Semuanya harus dilakukan di rumah saja, belajar, bekerja, hingga beribadah.

Pandemi itu tak mengenal waktu, hingga membuat ramadhan kali ini berbeda dengan ramadhan tahun-tahun sebelumnya. Tak ada sholat berjamaah di masjid, tak ada shalat tarawih, tak ada tadarus Al Quran di masjid, tak ada canda tawa saat menanti waktu berbuka puasa bersama dengan teman, semua  senyap.
Tapi dari sana kita bisa memetik sebuah hikmah akan pentingnya menghargai sebuah pertemuaan – menjalin silaturahmi yang selama ini sering sekali kita remehkan. Padahal, dalam silaturahmi itu sesuatu yang baik untuk kehidupan kita bahkan bisa memperpanjang usia. Benarkan, pasti kawan sudah pernah mendengar kata itu.

Pada saat ini,  dalam kondisi semua kegiatan dibatasi bahkan bisa jadi dilarang. Semoga kita semakin mengerti tentang pentingnya menghargai waktu orang lain dalam setiap pertemuan-pertemuan yang telah kita sepakati. Semoga kita bisa saling menghargai di masa mendatang.

Namun demikian, tak selamanya berdiam dirumah itu buruk, ada banyak sekali kebaikan-kebaikan yang bisa kita peroleh? Terutamanya di saat ramadhan kali ini, lebih banyak waktu di rumah bersama keluarga, belajar hal-hal baru yang mungkin tak akan pernah terpikirkan oleh kita, menjadi imam shalat tarawih untuk keluarga kita di rumah, misalnya? Atau  memperbaiki bacaan al qur’an atau menyimak bacaan anggota keluarga kita? 
Jika kita boleh meminta perpisahan yang kita inginkan hanya perpisahan dengan pandemi ini. Tak rela rasanya jika harus berpisah dengan bulan yang agung ini. 

Tapi yakinlah, semua yang terjadi saat ini tidak ada yang kebetulan. Semua sudah atas kehendak-Nya. Allah SWT tak akan menguji hambanya diluar batas kemampuan. Mungkin ada kebaikan-kebaikan yang bisa kita dapat setelah semua ini usai.


Prabumulih, 17 Mei 2020
#WAGFLPSumselmenulis
#lampauibatasmu


5 komentar :

  1. Selalu percaya bahwa setiap apa yang turun ke Bumi pasti akan ada hikmahnya. Semoga lekas membaik Indonesiaku.

    BalasHapus
  2. Tetap jalankan kebaikan yang bisa kita bawa menuju surganya Allah Swt.

    #Oh iyo, mungkin typo, ada kata di rumah tertulis dirumah.

    BalasHapus
  3. Sepakat, Ka. Diam di rumah malah bisa menimbulkan kebaikan-kebaikan baru, yang mungkin tidak disadari tanpa ada pandemi.
    Semoga perpisahan ini cuma jeda waktu, sampai dipertemukan kembali.

    BalasHapus
  4. Dulu aku sangat senang keramaian, sekarang aku malah takut. Semua ada hikmahnya. Semoga kita semua senantiasa bersyukur dan selalu bermuhasabah diri . Terima kasih, Teruslah berkarya.

    BalasHapus
  5. Setiap hal memiliki hikmah, tugas kita mencari tau atau berhusnuzan hingga tersadar dengan banyaknya hikmah yang diberi Allah SWT.

    BalasHapus

Terima kasih sudah baca postingan allamsyah.com, silakan tinggalkan komentar

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates