Telur Puyuh dan Sepatu Baru



Setiap orang terlahir tidak sama, baik fisik, sifat dan juga keadaan dalam keluarganya. Namun, hal itu bukan berarti kita menyerah atas apa yang telah ditakdirkan kepada kita, justru hal tersebut bisa menjadi tantangan tersendiri, bertahan dan maju atau tenggelam dalam kebinasaan.

Saya sendiri tidak terlahir dari keluarga yang berkecukupan.  Tak mudah untuk mendapatkan yang saya inginkan, bukan orangtua tak peduli tapi keadaan membuat semuanya harus saling memahami. Saya enam bersaudara, ibu hanya seorang pedagang makanan keliling dipasar, pedagang kecil penghasilannya  cukup buat dapetin modal jualan besok, selebihnya untuk memenuhi kebutuhan dapur sehari-hari. Bapak hanya buruh kasar harian, kadang dapet kerjaan, kadang tidak. Kalau pun dapet yah sama nasibnya, hanya bisa untuk kebutuhan keluarga yang paling lama tiga hari.

Ketika saya kelas tiga sekolah dasar, sepatu saya mulai rusak, maklum sepatu itu dibeli ketika masuk sekolah dasar. Jadi sudah selayaknya diganti. Tapi ketika itu tak mudah bagi keluarga kami membelikan sesuatu dihari itu juga, uangnya harus dicari dulu entah dimana? Saat itu kelas tiga sekolah dasar, kami masuk sekolahnya jam satu siang, nah ada waktu pagi yang kosong. Waktu pagi sampe jam 11.30 itu saya manfaatkan untuk ikut ibu jualan telur puyuh di terminal kota Prabumulih.

Telur puyuh itu bukan milik saya, melainkan punya orang lain, jadi saya hanya menjualkannya saja, satu bungkus telur puyuh saat itu berisi lima butir telur dengan harga Rp 1.000 dalam setiap bungkus telur puyuh yang berhasil saya jual saya mendapat komisi Rp 2.00,-  dalam sehari saya bisa menjual sebanyak 30 bungkus telur puyuh dari 30 bungkus tersebut saya mendapatkan uang sebesar Rp 6.000,- uang yang lumayan besar untuk ukuran saya pada saat itu, hasil keringat sendiri pula. Dari uang tersebut saya bagi dua, pertama untuk kebutuhan saya pribadi kedua saya tabung untuk beli sepatu baru.

Nah tidak mudah bagi saya untuk memutuskan ikut berjualan, hal yang pertama adalah  malu, sejak kecil saya memang orangnya pemalu, malu bagaimana kalau teman-teman di sekolah tau, bagaimana tanggapan mereka, pasti saya bakal diejek dan lainnya. Tapi semua prasangka saya itu salah besar. Suatu pagi saat sedang berdagang saya bertemu dengan teman sekolah, awalnya saya ingin menghindar tapi keberadaan saya sudah tertangkap mata olehnya.

“Kau jualan, Lam?” tanyanya.

“Iya,” jawabku singkat.

“Wihh enak yeh bisa jualan.”

Percangkapan singkat yang menggugurkan semua prasangka buruk tentang jualan itu memalukan, ternyata tidak. Sejak saat itu, perlahan-lahan saya mulai percaya diri untuk berjualan, pada hari-hari pertama jualan saya hanya mengekor dengan ibu, kemana pun langkahnya saya ikuti. Pada hari-hari berikutnya saya sudah lebih pandai berjualan, tidak mengekor lagi, sudah tau kemana saya harus melangkah, sudah  bisa menawarkan dagangan ke pembeli.

Perlahan-lahan uang saya sudah terkumpul untuk membeli sepatu baru. Itu salah satu kenangan terindah masa kecil saya. Sejak kecil sepulang sekolah atau hari libur saya selalu dilibatkan oleh bapak untuk mengikuti segala aktivitasnya, mulai dari mendorong gerobak dibawah terik panasnya matahari, menambang pasir di sungai, bertukang bangunan dan lain-lain.

Meskipun waktu kecil dulu sering bantu orang tua kerja tapi Alhamdulillah saya tidak kekurang waktu bermain, terutama bermain sepakbola yang menjadi permainan favorit  ketika masih kecil dulu. Nah, itu kisah masa kecil saya, bagaimana dengan kisah kecilmu?

 

#WAGLFLPSumselMenulis

#LampauiBatasmu #FLPSumsel

LihatTutupKomentar

12 Komentar

  • Dewi Rieka 15 November 2020 05.31
    Terharu dan kagum bacanya, sejak kecil punya kemauan kuat dan tekad untuk sukses...keep the good work...
  • Mega 15 November 2020 06.11
    Saya yakin, anak-anak yang tertempa sejak dini seperti ini akan tumbuh jadi anak yang kuat menghadapi cobaan di masa depan. Nggak cengeng, nggak mudah menyerah pastinya. Semangat terus ya, Kak. Kisahnya sangat menginspirasi.
  • Fadli Hafizulhaq 15 November 2020 23.37
    Belum tahu kalau belum mencoba ya mas. Saya juga pemalu, ibu saya juga pedagang. Cuma saya yang terlalu pemalu tidak berani untuk membantu menjualkan dagangan ibu saya. Cerita ini benar-benar menginspirasi.
  • kokonata 16 November 2020 05.26
    Pengalaman adalah guru. Sejak kecil anak emang harus sudah dilatih pengalaman kerja keras
  • iluvtari 16 November 2020 06.57
    orang sering salah paham kalau disebut malu jualan, dikira gengsi. dulu aku gitu, pengin jualan tapi malu. karena gak bisa ngomong. sampe sekarang jadinya gak bisa jualan. halah. selamat mas, kamu hebat!
  • Tika 16 November 2020 07.47
    Wah hebat udah berani jualan sejak kecil. Panutan banget
  • Milda Ini 16 November 2020 07.52
    kayaknya samalah, masa kecil saya juga punya pengalaman jualan, makanya gak heran kalo gedenya ada juga jiwa bisnisnya, hahaha. nah, kalo anak saya sekarang saya suruh juga jualan belajar dagang dikit-dikit
  • Djayanti Nakhla Andonesi 16 November 2020 08.21
    waah relate banget sama pengalaman saya, pun waktu kecil juga udah jualan, jualan kue buatan orang tua. baca ini jadi inget lagi momen2 perjuangan dulu, makasih sharingnya kak, semangat terus!
  • Rika Widiastuti Altair 16 November 2020 15.05
    MasyaAllah pengalaman masa kecil yang berharga sekali mas. Semoga selalu sukses ya. Waktu kecil saya juga jualan kue, tapi sepulang sekolah. Dan buat saya itu menyenangkan karena bisa dapet uang jajan tambahan☺
  • Nufa Zee 17 November 2020 22.10
    Jadi rindu masa kecil, dulu ortu ku juga berdagang Mas, dan aku paling payah kalau disuruh jaga toko huhu
  • Antung apriana 18 November 2020 19.37
    waktu aku sd dulu ibuku juga pernah nitip kue di kantin sekolah. jujur aku juga dulu malu sih tapi kenyataannya dari jualan kue itu ibuku bisa bantu keuangan keluarga. kalau sekarang aku juga pengen jualan euy tapi entah kenapa nggak pede melulu
  • Naqiyyah Syam 4 Desember 2020 20.40
    Terharu dan sangat kagum dengan semangatnya berjualan. Ada Bapak yang memberi inspirasi ya, masya Allah. Kangen Ayahku yang masa kecil sering mengajak ke pasar.
Cancel

Terima kasih sudah baca postingan allamsyah.com, silakan tinggalkan komentar